SATYA BHAYANGKARA-BULUKUMBA
Jakarta – Hari raya Idhul Fitri tahun ini berpotensi dirayakan secara bersamaan oleh warga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Potensi tersebut muncul dari hasil perhitungan awal (hisab) yang dihimpun Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR).
Data perhitungan itu menjadi acuan awal menjelang pelaksanaan pemantauan hilal (rukyatul hilal) untuk menentukan awal Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 Hijriah, yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Maret mendatang.
Berdasarkan rekapitulasi hisab, ketinggian hilal di sejumlah wilayah Indonesia saat waktu pemantauan diperkirakan telah mencapai sekitar 3 derajat. Angka tersebut dinilai cukup memungkinkan untuk memenuhi kriteria visibilitas hilal.
Tim Ahli BHR Kemenag Tuban, Kasdikin, menjelaskan bahwa beberapa wilayah di Indonesia bagian barat diprediksi memiliki posisi hilal yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.
Sejumlah daerah yang diperkirakan memiliki peluang lebih besar untuk melihat hilal antara lain Medan, Aceh, Padang, dan Jambi.
“Jika melihat itu tentunya Lebarannya bisa bareng,” ujar Kasdikin.
Meski demikian, keputusan resmi penetapan 1 Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai titik pemantauan di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia juga akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan secara resmi awal Syawal 1447 Hijriah.
Apabila hilal benar-benar terlihat sesuai prediksi, maka Idul Fitri tahun ini berpeluang menjadi salah satu momen Lebaran yang dirayakan secara serentak oleh mayoritas umat Islam di Indonesia
Pewarta.Basri





