Sains Membuktikan Pentingnya Interaksi dalam Keluarga untuk Membangun Kecerdasan

News30 Dilihat

SATYA BHAYANGKARA | JAKARTA, –Minggu, 04 Januari 2026. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menekankan pentingnya interaksi langsung dalam keluarga sebagai fondasi utama pembangunan karakter dan kecerdasan anak. Pernyataan ini disampaikan dalam dalam paparannya pada Seminar Natal Nasional 2025, yang digelar di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi, Sabtu (3/1).

Wamen Stella menyoroti tantangan besar keluarga di era metropolitan, yakni dominasi gawai (gadget) yang mulai mengikis waktu berkualitas saat makan bersama.

Mengutip data statistik, Wamendiktisaintek mengungkapkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu tiga jam delapan menit setiap hari untuk media sosial, dan melonjak hingga tujuh jam jika digabung dengan penggunaan internet secara umum. Angka ini bahkan lebih tinggi pada generasi Z yang mencapai empat jam khusus untuk media sosial.

“Banyak waktu kita, bahkan saat makan malam, dihabiskan masing-masing dengan layar. Padahal, makan malam adalah momen krusial dimana tidak ada alasan anak sedang sekolah atau orang tua bekerja di luar rumah,” ujar Wamen Stella.

Sains Membuktikan: Peran Orang Tua Tak Tergantikan

Wamen Stella memaparkan bukti empiris dari eksperimen Profesor DeLoach mengenai efektivitas pembelajaran pada balita. Hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak yang belajar kosa kata baru melalui interaksi langsung dengan orang tua (parent only) jauh lebih unggul dibandingkan mereka yang menonton video edukasi, meskipun video tersebut ditonton bersama orang tua.

“Ada fenomena 10 ribu word gap pada usia lima tahun. Anak yang jarang berbincang dengan orang tuanya memiliki kosa kata yang lebih rendah, yang secara langsung memprediksi kemampuan belajar mereka di sekolah di masa depan,” jelas Wamen Stella.

Selain itu, Wamen Stella juga menekankan pentingnya menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) melalui tanya jawab yang berkualitas dengan mendorong orang tua untuk memberikan jawaban yang membangun struktur berpikir, bukan sekadar jawaban singkat yang menutup ruang diskusi.

“Bertanya dan menjawab adalah bentuk active learning. Jika anak hanya dibiarkan dengan gawai, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar secara aktif karena gawai tidak bisa memberikan umpan balik langsung terhadap rasa penasaran mereka,” tambah Wamen Stella.

Menutup paparannya, Wamen Stella mengingatkan bahwa inti dari keluarga adalah penanaman nilai-nilai dan penciptaan kenangan bahagia. Wamendiktisaintek mengingatkan bahwa jika komunikasi di meja makan digantikan oleh layar, maka nilai-nilai yang diserap anak bukanlah berasal dari orang tua, melainkan kurasi algoritma kecerdasan buatan (AI) dan media sosial.

“Keluarga adalah jangkar kemanusiaan. Kita adalah makhluk sosial yang dianugerahi kemampuan untuk bertukar pikiran. Jangan sampai kita menghilangkan anugerah tersebut. Mari kita mulai dari hal sederhana: makan bersama dan berbicara tanpa gawai,” tegas Wamen Stella.

Sumber : Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi

Pewarta : Arif prihatin