SATYA BHAYANGKARA-BULUKUMBA
-Sulawesi Selatan — Selasa 10 Maret 2026, Suasana yang berbeda terasa di dalam tembok lembaga pemasyarakatan saat bulan suci Ramadan tiba. Jika biasanya ruang-ruang di dalam penjara identik dengan keterbatasan dan kerinduan, kali ini kehangatan keluarga justru hadir menghapus jarak yang selama ini memisahkan. Sekitar 300 warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bulukumba mendapatkan kesempatan istimewa untuk bertemu dan berbuka puasa bersama keluarga dalam kegiatan bertajuk “Semarak Ramadan”.
Kegiatan tersebut bukan sekadar acara seremonial. Ia menjadi momen yang sarat makna, karena menghadirkan kembali rasa kebersamaan, kasih sayang keluarga, serta harapan baru bagi warga binaan yang sedang menjalani masa pembinaan.
Acara ini juga dirangkaikan dengan penyerahan hadiah lomba keagamaan yang sebelumnya diikuti oleh para warga binaan selama bulan Ramadan. Lomba tersebut meliputi berbagai kegiatan bernuansa religius seperti tilawah Al-Qur’an, ceramah keagamaan, hingga lomba hafalan ayat suci, yang menjadi bagian dari pembinaan spiritual di dalam lapas.
Momen Melepas Rindu di Bulan Suci
Sejak sore hari, suasana di area kunjungan lapas mulai dipenuhi oleh keluarga yang datang membawa harapan dan doa. Senyum haru terlihat ketika para warga binaan akhirnya bisa duduk bersama keluarga mereka.
Bagi banyak warga binaan, momen berbuka puasa bersama ini adalah kesempatan langka untuk melepas rindu setelah sekian lama menjalani kehidupan di balik jeruji besi.
Salah satu warga binaan mengungkapkan rasa syukur atas kegiatan tersebut.
Ia mengaku bahwa kehadiran keluarga memberikan kekuatan moral dan semangat baru untuk menjalani masa pembinaan dengan lebih baik.
“Alhamdulillah kami sangat bersyukur atas kesempatan ini. Bisa berbuka puasa bersama keluarga membuat kami merasa kembali dekat dengan rumah dan memberi semangat untuk berubah menjadi lebih baik,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Dukungan Moral dari Keluarga
Tidak hanya warga binaan yang merasakan kebahagiaan. Para keluarga yang hadir juga mengaku sangat terharu atas kesempatan yang diberikan oleh pihak lapas.
Seorang anggota keluarga warga binaan menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak lapas yang telah memberikan ruang pertemuan penuh kehangatan tersebut.
“Kami sangat berterima kasih kepada pihak Lapas Bulukumba. Kegiatan ini sangat berarti bagi kami karena bisa bertemu langsung dan berbuka puasa bersama keluarga kami yang sedang menjalani pembinaan,” ujarnya.
Menurut para keluarga, kehadiran mereka di lapas pada momen Ramadan ini juga menjadi bentuk dukungan moral dan motivasi agar anggota keluarga mereka dapat menjalani proses pembinaan dengan baik hingga kembali ke masyarakat.
Wujud Pembinaan Kepribadian
Program buka puasa bersama keluarga ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian yang dilaksanakan oleh pihak lapas terhadap warga binaan. Melalui kegiatan keagamaan dan kebersamaan keluarga, diharapkan para warga binaan dapat memperkuat nilai spiritual, memperbaiki diri, serta menumbuhkan harapan untuk kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.
Kegiatan seperti ini juga menjadi bukti bahwa sistem pemasyarakatan di Indonesia tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga pada proses pembinaan dan reintegrasi sosial.
Landasan Aturan Kegiatan Pembinaan
Pelaksanaan kegiatan pembinaan keagamaan dan pemberian kesempatan bagi warga binaan untuk bertemu keluarga memiliki dasar hukum yang jelas dalam sistem pemasyarakatan di Indonesia, di antaranya:
1. Undang‑Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan
Undang-undang ini menegaskan bahwa sistem pemasyarakatan bertujuan membentuk warga binaan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana, serta dapat kembali diterima oleh masyarakat.
2. Undang‑Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Menjamin bahwa setiap orang, termasuk warga binaan, tetap memiliki hak-hak dasar kemanusiaan seperti beribadah, mendapatkan pembinaan, serta menjalin hubungan dengan keluarga.
3. Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 6 Tahun 2013 tentang Tata Tertib Lapas dan Rutan
Mengatur bahwa warga binaan memiliki hak untuk menerima kunjungan keluarga dan mengikuti kegiatan pembinaan keagamaan selama menjalani masa pidana.
Ramadan yang Menghidupkan Harapan
Di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah, kegiatan Semarak Ramadan di Lapas Bulukumba menjadi gambaran bahwa harapan selalu ada bagi siapa pun yang ingin berubah.
Di balik jeruji besi, tawa keluarga, doa yang dipanjatkan, dan kebersamaan saat berbuka puasa menjadi pengingat bahwa setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kegiatan ini bukan hanya sekadar buka puasa bersama, tetapi juga simbol bahwa kasih sayang keluarga dan pembinaan yang baik dapat menjadi jalan menuju perubahan.
Dan di Lapas Bulukumba pada sore itu, Ramadan benar-benar menghadirkan cahaya harapan bagi ratusan warga binaan yang ingin kembali menjadi bagian dari masyarakat.
Pewarta.Basri





