“Ketika Prajurit Pulang: 28 Tahun Mengabdi, Kapten Danial Kembali Menjaga Tanah Kelahiran”

News10 Dilihat

SATYA BHAYANGKARA-BULUKUMBA
— Aroma kopi yang mengepul pelan di sudut Cafe Lakuna, Jalan Samratulangi, sore itu terasa berbeda. Bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan ruang kecil yang mempertemukan cerita panjang, pengabdian, dan kerinduan seorang prajurit terhadap tanah kelahirannya.

Di antara cangkir-cangkir kopi dan obrolan santai, duduk sosok Kapten ARH Muhammad Danial Rustam—Pasi Intel Kodim 1411 Bulukumba—yang baru saja kembali ke Bulukumba setelah hampir tiga dekade mengabdi di berbagai penjuru negeri.

Wajahnya tenang, tutur katanya terukur. Namun di balik itu, tersimpan perjalanan panjang selama 28 tahun yang tidak ringan. Penugasan demi penugasan telah ia lalui, jauh dari kampung halaman yang kini kembali ia pijak.

> “Selama 28 tahun saya banyak bertugas di luar daerah. Alhamdulillah, sekarang saya bisa kembali mengabdi di kampung halaman sendiri,” ucapnya lirih, penuh rasa syukur.

 

Kembali bagi sebagian orang adalah hal biasa. Namun bagi Danial, ini adalah titik pulang yang sarat makna—antara kebanggaan, tanggung jawab, dan panggilan hati sebagai putra daerah.

Ia memahami betul bahwa menjaga Bulukumba bukan sekadar tugas formal. Ada kedekatan emosional yang tidak dimiliki semua orang. Ada rasa memiliki yang menuntut lebih dari sekadar menjalankan kewajiban.

Dalam forum coffee morning yang ia gagas bersama jajaran intel, media, dan LSM, Danial menunjukkan pendekatan yang berbeda—lebih humanis, lebih terbuka, dan penuh dialog.

> “Kami ingin komunikasi seperti ini terus berjalan. Harapan kami, kegiatan coffee morning bisa dilakukan setiap bulan, agar hubungan antara aparat, media, dan masyarakat tetap terjaga,” tegasnya.

 

Bagi Danial, keamanan tidak hanya dibangun dari kekuatan struktural, tetapi juga dari kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari komunikasi yang jujur dan terbuka.

Di tengah derasnya arus informasi, ia melihat media dan LSM bukan sebagai pihak luar, melainkan mitra penting dalam menjaga keseimbangan. Kolaborasi menjadi kunci untuk meredam potensi konflik dan menjaga stabilitas wilayah.

Suasana sore itu pun menjadi saksi—bahwa percakapan sederhana bisa melahirkan gagasan besar. Bahwa secangkir kopi mampu mencairkan sekat yang selama ini terasa kaku.

Pengalaman panjang di luar daerah kini ia bawa pulang, bukan sebagai beban, melainkan sebagai bekal untuk membangun kampung halaman dengan cara yang lebih bijak.

> “Persoalan besar seringkali bisa diselesaikan dengan komunikasi sederhana. Yang penting kita duduk bersama dan saling memahami,” ujarnya.

 

Kini, di tanah yang membesarkannya, Kapten ARH Muhammad Danial Rustam tidak hanya kembali sebagai seorang aparat. Ia hadir sebagai jembatan—antara negara dan masyarakat, antara tugas dan pengabdian, antara pengalaman dan harapan.

Dan dari sebuah meja kopi sederhana di sudut kota, ia memulai kembali pengabdiannya—bukan dengan suara keras, tetapi dengan langkah tenang yang penuh makna.

Sebab sejatinya, pulang bukan hanya tentang kembali.
Tetapi tentang bagaimana memberi arti bagi tanah yang tak pernah benar-benar kita tinggalkan.

 

Pewarta. Basri