Menteri PKP Ajak Pemda Sinergikan Program Rumah, Guna Mengurangi Beban Rakyat

News10 Dilihat

SATYA BHAYANGKARA | JAKARTA, –Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengajak seluruh pemerintah daerah di Indonesia untuk bersinergi dalam menjalankan program perumahan rakyat yang terpadu dan berkeadilan. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Program Perumahan di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Rabu (25/2/2026)

Menurut pria yang akrab disapa Ara itu bahwa program perumahan yang dijalankan pemerintah saat ini merupakan hasil kesinambungan dari kebijakan pemerintahan sebelumnya, namun kini dipadukan dengan berbagai program baru agar dampaknya semakin luas bagi rakyat.

Mohon sinergi kita semua. Saya juga menyampaikan seperti yang disampaikan Presiden Prabowo, bahwa apa yang terjadi hari ini tidak lepas dari pemerintahan sebelumnya. Bedanya, di zaman sekarang kita padukan dengan program-program lain,” ujar dia.

Ia menjelaskan, Kementerian PKP tengah mengintegrasikan sejumlah program, seperti PNM, SMF, dan KUR Perumahan, dengan Tapera serta rumah subsidi.

Melalui sinergi ini, pemerintah menurunkan bunga rumah subsidi, menambah kuota penerima, serta memadukan dengan program BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) dan penataan kawasan kumuh.

Ara menegaskan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, mulai tahun 2026 seluruh program perumahan harus menggunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

“Tidak ada lagi lobi-lobi dari pemda. Semua berbasis data BPS agar berkeadilan, dengan mempertimbangkan jumlah penduduk dan tingkat kemiskinan di setiap kabupaten dan kota,” ujarnya.

Selain perbaikan rumah, masyarakat penerima manfaat juga akan mendapat dukungan pembiayaan mikro melalui SMF dan PNM. Tujuannya agar warga yang ekonominya tumbuh mampu merawat rumahnya sehingga tidak kembali kumuh.

“Program SMF ini unggulan karena telah memberikan penurunan bunga sebesar 5% bagi sekitar 16,2 juta rakyat, terutama ibu-ibu di daerah. Ini kebijakan yang sangat progresif dan belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkap Ara.

Ia juga mengarahkan agar program renovasi rumah atau BSPS menyerap produk dalam negeri, termasuk genting produksi rakyat. “Sesuai arahan Presiden Prabowo, program gentingisasi ini akan memanfaatkan produk UMKM agar ekonomi rakyat bergerak,” katanya.

Direktur Jenderal Kawasan Permukiman Kementerian PKP, Fitrah Nur, menambahkan bahwa kebutuhan untuk program gentengisasi di BSPS diperkirakan mencapai Rp 2 juta-Rp 3 juta per rumah. Fitrah juga mengungkapkan di tahun 2026, penataan kawasan kumuh akan dilaksanakan di 15 provinsi.

Lebih lanjut, Ara juga menyinggung pentingnya inovasi dalam pembangunan perumahan, termasuk melalui model rumah susun subsidi di kawasan Meikarta.

“Kalau kita bisa buat program baru seperti rumah susun subsidi di Meikarta, saya sangat senang. Karena di sini tanahnya merupakan hibah dari pengusaha kepada negara, seluas sekitar 30 hektare. Ini termasuk hibah terbesar tahun ini,” jelas Menteri Ara.

Model seperti ini, lanjutnya, akan melibatkan Danantara dan pihak swasta dalam pembangunan. Ara berharap gubernur dan kepala daerah di berbagai wilayah dapat meniru pola kemitraan tersebut.

Ara meminta Dirjen Kawasan Permukiman Fitrah Nur untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam menentukan lokasi prioritas penanganan kawasan kumuh di seluruh Indonesia.

“Kami ingin semua program perumahan benar-benar mengurangi beban rakyat. Karena tujuan akhirnya adalah kesejahteraan dan kemandirian masyarakat,” pungkasnya.

Pewarta : Arif prihatin